Benda

Kayu cendana (cendana merah)

Tumbuhan dalam Alkitab

Cendana merah Pterocarpus santalinus adalah pohon tropis yang besar dengan kayu yang keras dan kemerahan serta bunga yang kuning. Buahnya berupa polong yang berisi dua biji.

Gambar

Kayu cendana
Kayu cendana© J. M. Garg, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons
Daun cendana
Daun cendana© J. M. Garg, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Dalam Alkitab

Kata Ibrani dan Yunani untuknya, dan setiap ayat tempat masing-masing dipakai

אַלְגּוּמִּים ’algum · 3 ayat
אַלְמֹגִּים ’almug · 2 ayat
Lebih lanjut

Survei atas terjemahan-terjemahan Inggris menunjukkan perdebatan yang sengit, kalau bukan kebingungan, seputar kata Ibrani ’almug dalam 1 Raja-raja dan padanannya ’algum dalam 2 Tawarikh. Mayoritas terjemahan Inggris (RSV, NRSV, NIV, REB, NJB) mentransliterasi langsung dari bahasa Ibrani dalam kedua kitab itu, tetapi GNB, CEV, dan NCV menyelaraskan 1 Raja-raja dan 2 Tawarikh dengan memakai “juniper” di seluruhnya. GECL juga menghindari masalah ini dengan menerjemahkan “kayu yang berharga” dalam kedua kitab itu. Perdebatan ini bergantung pada dua pertanyaan:

1. Apakah ’almug dalam 1 Raja-raja sama dengan ’algum dalam 2 Tawarikh?

2. Dari mana asal pohon ’almug /’algum?

Perhatikan dari mana kayu itu dikatakan berasal: , ’almug dari Ofir; , ’algum dari Libanon; , ’algum dari Ofir.

Para penafsir botani berpendapat sebagai berikut: Zohary, mengikuti Tristram, mengatakan bahwa pohon-pohon itu sama, yaitu cendana merah (Pterocarpus santalinus, juga disebut red saunders) dari India (melalui Ofir). Hepper, mengikuti Moldenke, Celsius, W. Smith, dan ahli-ahli lain, mengatakan bahwa pohon-pohon itu berbeda: ’almug adalah cendana merah; ’algum adalah juniper Yunani Juniperus excelsa dari Libanon.

Menurut FFB, pohon-pohon itu sama, asalnya tidak diketahui, tetapi mungkin cendana merah, cendana putih, atau juniper Fenisia.

Para penafsir Alkitab Keil dan Delitzsch menganggap pohon-pohon itu sama, yaitu cendana. Menurut mereka, dalam penulisnya keliru mengelompokkan ’algum bersama aras dan cemara sebagai hasil Libanon, padahal ’algum seharusnya berdiri sendiri bersama “batu permata”, seperti dalam . Selanjutnya, G. H. Jones berpendapat bahwa kata itu seharusnya ’almug, bukan ’algum, berdasarkan kata-kata seasal dalam bahasa Ugarit (’-l-m-g) dan Akkadia (elammakku). Selain itu, salah satu dialek bahasa Sanskerta mempunyai kata mocha untuk pohon cendana (lihat juga lampiran di bawah). Penambahan kata sandang tentu bahasa Arab al dapat menjelaskan al-mug (dan bahasa Arab biasanya mengubah o menjadi u dalam kata serapan). Greenfield dan Mayrhofer (1967, dikutip dalam Hepper) juga berpendapat atas dasar filologis bahwa ’algum dan ’almug adalah benda yang sama; mereka mengidentifikasinya dengan sejenis pohon dari Libanon yang tidak mereka sebutkan namanya. Kebetulan, catatan-catatan Ugarit menyebut pohon yang disebut ’-l-m-g.

Dengan pendekatan yang sama sekali berbeda, Hareuveni (halaman 99) mencoba mengajukan argumen untuk menerjemahkan ’almug sebagai “karang”, suatu hasil mineral yang terdapat di laut, dengan alasan bahwa ’almog adalah kata Ibrani modern untuk karang. Kata itu menjadi pasangan yang serasi dengan “batu permata”. Hareuveni mengutip Talmud Babel, yang menguraikan secara terperinci bagaimana “pohon-pohon karang” ini diangkat dari dasar Laut Tengah.

Para penerjemah GNB, CEV, dan NCV (mengikuti FFB, yang mengikuti Koehler dan Baumgartner) berpendapat bahwa frasa “’algum dari Libanon” dalam adalah dasarnya dan bahwa frasa itu pasti mengacu pada juniper Fenisia (lihat 1.11.2 Juniper Fenisia (juniper pesisir)). Lalu mereka menyelaraskan 1 Raja-raja dengan 2 Tawarikh.

Jika kisah dalam 1 Raja-raja 10 dan 2 Tawarikh 9 dilihat sebagai cerita tentang sumbangan Hiram kepada Raja Salomo, pertama-tama dapat diamati bahwa kedua kisah itu sama-sama disela secara janggal oleh cerita tentang kunjungan ratu negeri Syeba.* Kedua kisah itu hampir sama kata demi kata, kecuali perbedaan ’almug /’algum. Raja Hiram membawa emas dari Ofir, dan juga, sambil lalu, kayu ’algum /’almug dan batu permata. 1 Raja-raja menyebut ’almug tiga kali; kisah yang sejajar dalam 2 Tawarikh menyebut ’algum dua kali, dengan penyebutan sejajar yang ketiga jelas tersirat. Sulit untuk menghindari kesimpulan bahwa keduanya mengacu pada hasil yang sama, dan bahwa perbedaannya disebabkan oleh pertukaran sederhana dua huruf mati Ibrani, mem dan gimel, dalam salah satu kisah itu. Kedua kisah itu tidak menyebutkan dari mana kayu itu berasal, tetapi tampaknya bukan dari Libanon. Hal ini tampaknya menyingkirkan “juniper” (seperti dalam GNB, CEV, dan NCV). Dan mungkin juga bukan dari Ofir. Manakah dari kedua bacaan itu yang lebih awal? Pada umumnya diterima bahwa kisah dalam kitab Raja-raja ditulis lebih dahulu dan bahwa penulis Tawarikh memakai kisah Raja-raja yang deuteronomistis (dengan ’almug) sebagai rujukan. Marilah kita anggap bahwa ’almug yang lebih awal.

Perhatikan bahwa (8) mengungkapkan keinginan Raja Salomo agar Raja Hiram mengirim kepadanya “kayu aras, sanobar dan ’algum”. Tidak ada padanan yang tepat untuk hal ini dalam 1 Raja-raja, tetapi dalam kita mendapati jawaban Raja Hiram atas permintaan Salomo. Ia mengatakan bahwa ia akan mengirim kayu aras dan kayu cemara kepada Salomo. Tidak ada penyebutan jenis kayu lain. Tetapi ketika kita sampai pada , kita mendapati bahwa Hiram mengirim kayu algum dan batu permata. Kita dapat menyimpulkan bahwa ’algum ditambahkan pada untuk mengantisipasi pernyataan dalam (dan ) bahwa Salomo membawa kayu ’algum untuk dipakai di Bait Allah. Sayangnya, cara penambahannya membuat seolah-olah kayu yang berharga itu berasal dari Libanon. dan (yang disela oleh cerita ratu negeri Syeba) dengan jelas memisahkan emas (dari Ofir) dari kayu algum dan batu permata (asalnya tidak disebutkan). Kami menyimpulkan bahwa dalam menyadur teks , penyalin yang menyiapkan menukar letak kedua huruf mati itu sehingga menjadi ’algum, dan rujukan lain dalam 2 Tawarikh disesuaikan agar selaras dengan yang pertama.

Lampiran

Zohary dan ahli-ahli lain berpendapat bahwa ’almug adalah cendana dengan alasan bahwa mug seasal dengan kata Sanskerta mocha, dengan awalan kata sandang tentu al. Pendapat ini mengandaikan bahwa orang Arab memperdagangkan kayu cendana dengan nama almuka atau yang serupa, dan bahwa kata Arab itu masuk ke dalam Alkitab Ibrani pada masa penulisan 1–2 Raja-raja dan 1–2 Tawarikh. Akan tetapi, masih dipertanyakan apakah kata sandang tentu sudah dipakai dalam bahasa Arab pada masa kitab-kitab ini ditulis. Buku Moscati, An Introduction to the Comparative Grammar of the Semitic Languages, menyatakan bahwa sebagian besar teks bahasa Arab Selatan Epigrafis dan Arab Utara Awal (abad kelima SM sampai abad keempat M) tidak mempunyai kata sandang tentu, tetapi sebagai gantinya menambahkan akhiran nun atau mem untuk keadaan absolut (seperti dalam bahasa Babel). Sampai baru-baru ini orang beranggapan bahwa kata sandang al hanya muncul secara teratur dalam bahasa Arab klasik (mulai abad keempat M dan seterusnya). Akan tetapi, telah ditemukan dua pengecualian penting dengan al, dalam bentuk prasasti, dan Moscati mengakui bahwa keduanya mungkin berasal dari periode Arab Utara Awal. Lebih lanjut, Herodotus, yang menulis pada abad kelima SM, sudah memakai suatu frasa untuk “dewi itu” dengan kedua awalan h /hn dan al dalam sebuah prasasti Aram.

1 Raja-raja

emas dari Ofir

’almug dan batu permata

jumlah seluruh emas

2 Tawarikh

emas dari Ofir

’algum dan batu permata

jumlah seluruh emas

Lainnya dalam Pohon dan semak liar

Sumber

Plants and Trees in the Bible, Animals in the Bible and Human-made Things in the Bible © United Bible Societies, 2025 (adapted from Each According to its Kind: Plants and Trees in the Bible by Robert Koops, All Creatures Great and Small: Living Things in the Bible by Edward R. Hope, and The Works of Their Hands: Man-made Things in the Bible by Ray Pritz), CC BY-SA 4.0; adapted for eRhema